Gear Acquisition Syndrome

Gear Acquisition Syndrome

Sebetulnya tidak masalah apakah anda membeli sebuah peralatan semahal apapun, kalau digunakan secara sering, maka biaya per penggunaan akan menjadi murah. Apalagi kalau perlengkapan tersebut menghasilkan uang tambahan, maka harga peralatan tersebut akan bisa kembali modal.

Pembelian mobil keluarga atau rumah misalnya, meski harganya mahal tapi kalau digunakan terus akan memaksimalkan nilai yang ada. Bayangkan kalau anda harus naik taksi kemana mana atau kost / ngontrak… lebih mungkin jatuhnya akan lebih mahal.

Biasanya barang gadget Hobi menjadi hal yang mahal ketika kita tidak menggunakannya (menikmatinya ) lebih sering… jujur ada beberapa barang hobi yang menurut saya tidak terlalu sering saya gunakan sehingga biaya aquisisinya tidak balik modal. Salah satunya adalah perlengkapan fotografi misalnya fuji X100 yang sekarang banyak tinggal dirumah daripada di dalam tas dan anda semakin jarang melihat foto di blog ini.

Ada cara yang mudah untuk mengetahui apakah anda juga memiliki masalah GAS (Gear Acquisition Syndrome), coba anda jawab beberapa hal dibawah ini:

  • Apakah anda sering beranggapan bahwa gadget anda cepat obsolete dan harus segera mengganti dengan model yang baru..?
  • Apakah anda sering tidak puas dengan gadget anda dan ingin mengupgrade untuk menjadikannya lebih baik?
  • Apakah anda memiliki gadget yang tidak terpakai dirumah tapi juga masih sayang untuk menjual / memberikan kepada orang lain?
  • Apakah anda merasa lebih mahal untuk membayar training cara menggunakan gadget anda (misalnya fotografi, selam dll) dibandingkan dengan membeli barang anda.
  • Apakah anda suka pamer gadget (baik sadar maupun tidak :))

Bila jawaban anda lebih banyak “YA”… maka ada dua kemungkinan yaitu: anda adalah seorang kolektor atau anda memiliki masalah “GAS”… tapi saya sarankan untuk segera menemui psikolog :) … Saya beruntung saya punya akses mudah ke psikolog meskipun belum terlihat hasilnya :D

Advertisements

Weekend Project: Developing B/W film

Ada satu hal yang ingin saya kerjakan sejak dulu, yaitu memproses dan mencetak film sendiri dan berasa seperti Ansel adams :). Hal tersebut tidak pernah tersampaikan karena selain ribet, ada yang jauh lebih mudah dan murah, yaitu memprosesnya di lab film.

Tetapi dengan berkembangnya camera digital, lab film tersebut mulai membatasi operasinya hanya memproses warna dan melakukan pencetakan saja, sedangkan film slide dan hitam putih sudah tidak lagi di support. Akhirnya saya memutuskan untuk mencobanya weekend ini sebelum film analog ini hilang dari peredaran :).

First try Gagal total bisa dibaca disini untuk detailnya, tak apa, masih bisa di coba lagi… dan hari ini second try…. berhasil..!, setidaknya terlihat hasilnya, nanti akan saya scan dan postkan di blog tentang fotografi.

It seems pointless.. why doing it now in the Digital age. Using digital camera is easier, cheaper, faster and more practical etc.

To be honest I do not have any explanation other than “I just want to do it” :). it’s probably like writing a letter in a paper and send it trough snail mail, it just give a different feeling and connection compare to just send it trough e-mail. We do a lot of pointless things in our life anyway… like hiking, biking, computer game etc… We do it because we enjoy it, no explanation needed. I think this following quote from Bertrand Russell beautifully sum it up

The time you enjoy wasting is not wasted time

Developing B/W film at home… Check…!

Cerita Politik untuk Istri…

Istri saya bukan pemerhati politik, tapi suka nanya nanya yang telat, kasusnya sudah sampai mana yang ditanya kasus 300 th yang lalu.. :). Akhirnya saya bercerita agak panjang…

Hari hari belakangan ini suhu politik memanas karena “sebentar lagi” pemilihan presiden ditambah juga kasus korupsi sepertinya mulai menggelinding. Kalau kita baca dan tonton di telivisi maka benang merahnya adalah sperti berikut:

Nazarudin tertangkap sebagai tersangka kasus korupsi… ada sekitar 30 kasus lebih kasus korupsi yang menjeratnya. Salah satunya adalah korupsi wisma atlet. Tentunya korupsi pasti bagi bagi, ternyata ada indikasi uangnya di bagi ke AM dan AU keduanya adalah petinggi demokrat dengan perantara Angelina Sondakh dan Rosa (Mindo Rosalina Manulang). Rosa itu bahawannya Nazarudin. Akhirnya Angelina Sondakh dan Nazarudin di pertemukan di pengadilan. Nazarudin membeberkan semuanya, Angelina Sondakh (dibawah sumpah) mengelak sebisanya. Termasuk tentang tidak punya BBM untuk kontak dengan Rosa yang lagi rame itu… Masalah bohong atau tidak saya tidak tahu.

Ada kejadian yang menarik juga di DPR, ternyata tanpa banyak orang tahu bahwa di komisi III (dimana KPK harus melapor pada komisi ini) duduklah Nasir, nasir ini ternyata adalah kakaknya Nazarudin. Tentunya tidak etis bahwa kakak seorang menjadi tersangka KPK, tapi duduk di komisi yang menangani KPK. Sebenarnya tidak banyak orang tahu sampai kemudian Nasir ini sering ketempat nazarudin pada tengah malam tanpa mengisi buku tamu, dan ketahuan oleh Denny Indrayana. Saya masih bingung bagaimana Denny Indrayana pergi ke lapas Nazarudin tengah malam dan bisa memergoki mereka. Tapi semua bisa terjadi secara “kebetulan” :)

Sehingga ramailah orang berbicara, tidak etis nasir kakak Nazarudin duduk di komisi III, setelah demokrat beberapa lama tak bergeming dan tidak mengganti Nasir, akhirnya Demokrat merotasi kader-kadernya yang ada di DPR, dan kejadian rotasi itu adalah setelah Angelina Sondakh di konfrontir oleh Nazaruddin.

Ada dua hal penting terjadi pada rotasi ini yaitu, Nasir kakaknya Nazar akhirnya dipindah dari komisi III yay…! Dan… sebagai gantinya adalah… drum roll please… Angelinaaaa Sondaaaakh…! Sungguh saya tak percaya bahwa ini betul terjadi, atau sedang menonton stand up comedy. Tentu saja masyarakat menolak karena kalau nasir saja tidak etis, apalagi kalau yang menjadi tersangka yang duduk disana.Bahkan Abaraham samad ketua KPK mengtakan tidak akan hadir ke komisi III kalau ada angie disana..!

Setelah mendapat kritik dan tekanan, Demokrat pun merotasi lagi.. Akhirnya Angelina Sondakh di rotasi ke Komisi VIII yaitu komisi Agama. Mengutip Sutan Bhatoegana (politikus demokrat) agar Angelina Sondakh mendapatkan siraman rohani yang cukup…  ( yang ini membuat saya tertawa betulan). Apakah selesai sampai disini..? Tentu tidak…

Tak berapa lama kemudian SBY yang berada di Bali melalui Andi Malarangeng mengatakan bahwa beliau marah besar mengetahui bahwa Angelina Sondakh hampir ditaruh di komisi III. Intinya adalah memarahi ketua umum demokrat yaitu Anas Urbaningrum dengan kata kata ” tidak cerdas” dll. pada intinya SBY setelah tahu angie mendapat penolakan besar mau berkata kepada masyarakat… “itu Bukan saya… tapi Anas urbaningrum” sambil menggandeng Andi malarangeng.

Ini aneh, seorang pemimpin, memarahi secara terbuka kadernya. Itu seperti saya memarahi junior di depan klien, atau mengatakan itu bukan salah saya tapi salah departemen prosessing dll.. sangat tidak etis…! Demokrat ya Demokrat, kalau mau berantem di dalem saja… internal… kalau keluar ya kalau satu salah ya semua salah…

Sepertinya demokrat terpecah jadi dua yaitu Kubu Anas dan Kubu SBY, sekarang pertarungan menjadi frontal, SBY tidak mau Anas menjadi kandidat presiden 2014, tapi Anas sepertinya akan berusaha keras… Mungkin dalam politik, etika seperti diatas tidak ada, atau ada tapi tidak diindahkan saya tak tahu, saya mungkin harus mengikuti pelajaran etika politik…:)

Begitu ceritanya… Jelas ya… kata saya sok jadi expert… dan istripun bertanya dengan kalem… “kalau hubungannya dengan nunun dan century bagaimana”… halah maak… :)

Sabtu 18 Februari 2012

Happy Valentine’s day…

Saya sebenarnya bukan orang yang merayakannya karena saya curiga bahwa hari istimewa ini “sengaja” di ciptakan untuk menggalakkan industri tertentu. Tetapi sepertinya desakan lingkungan cukup besar untuk membuat saya membeli coklat dan memberikannya kepada orang terdekat…   :)

Tetapi setelah saya pikir.. ada untungnya juga ada hari Valentine ini. Agak tidak lucu kalau saya membeli coklat dan kemudian memberikannya kepada seseorang, bisa dianggap men-sabotase diet nantinya. Dengan adanya Hari Valentine coklat adalah cara menujukkan perhatian anda, meskipun setelah itu anda melarang untuk memakanya untuk menjaga kadar gula darah dan ke *ehm*sexy-anya

Meskipun harga coklat yang “special” bisa dikatakan mahal, tapi melihat seorang yang anda kasihi tersenyum gembira adalah “priceless” moment. Untuk para pria, bersikap romantis pada hari ini sangat dianjurkan… Bahkan anda dimaafkan kalau anda memakai baju pink.. :). Ini adalah hari dimana ” real men wear pink” so go head.. :D

Happy Valentine’s day everyone… especially for you Mr. Chocolate manufacturers…

Leica M3

Ada Kejadian lucu hari sabtu dan minggu kemarin. Bermula ketika camera digital saya rusak dan harus diopname selama lebih dari sebulan. Masih dalam garansi jadi saya tidak ada biaya. Setelah satu minggu tidak berkamera, rasanya ada yang kurang, sehingga iseng iseng saya men-search ” the best Leica camera”.

Leica adalah  adalah kamera yang saya idamkan sejak dulu, bukan karena saya akan bisa mendapatkan gambar lebih bagus dengan merek tertentu, tapi lebih karena ada nilai historis dan “mistis” yang dimilikinya. Akhirnya menurut para pakar dibidang per fotografian… Leica M3 adalah kamera yang terbaik yang pernah di buat Leitz sepanjang masa, bahkan dibandingkan Leica M9 (digital) yang paling baru.

Setelah itu browsing sana sini, dan bertanya kepada para penjual Leica M3 di online, rupanya para penjual Leica M3 itu tidak terlalu butuh uang, harganya mungkin dihitung dalam pergram sehingga tak akan terbeli. Hampir semua menganggap barang mereka adalah pusaka satu satunya di dunia…

Akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang menjual Leica M3 dengan Harga 20 juta… ya 20 juta..! untuk kamera yang berumur 50 tahun lebih..! apa yang ada dibenak orang ini pikir saya. Akhirnya saya telepon dan bicara panjang lebar, coutesy bonus pulsa pada weekend. Ternyata kamera tersebut adalah peninggalan kakeknya yang tinggal satu satunya. Dan harga 20 juta adalah rekomendasi dari temannya.

Akhirnya saya menawarkan diri untuk membelinya, tapi saya terus terang tidak memiliki uang sebanyak itu. Sayapun bertanya, berapa harga penawaran tertinggi, diapun menyebutkan angka yang sangat jauh dibawah angka tersebut. Karena masuk ke budget, sayapun me-match tawaran terbut dan menambahnya sedikit. Beliau setuju dan sayapun menjadi pemilik Leica M3 + lensa 50 summicron versi II rigid + Leica meter MC. Sayang light meter leica MC-nya Mati

Masalah selanjutnya adalah, dimana saya bisa membeli film analog dan memprosesnya.. :)